Tragedi Tambang Emas Ilegal di Sijunjung: 9 Pekerja Tewas Tertimbun Longsor di Koto VII
![]() |
| Tragedi Tambang Emas Ilegal di Sijunjung: 9 Pekerja Tewas Tertimbun Longsor di Koto VII (Generate By Gemini AI) |
Suaratebo.net, Sijunjung – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat, kembali membuahkan duka mendalam. Pada Kamis (14/5/2026), sebanyak sembilan orang pekerja tambang dilaporkan tewas tertimbun longsor saat melakukan aktivitas penambangan di Jorong Sintuak, Nagari Guguk, Kecamatan Koto VII.
Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Musibah ini menimpa para pekerja yang tengah melakukan penambangan manual dengan metode mesin dompeng. Tingginya intensitas hujan di wilayah Sijunjung dalam beberapa hari terakhir diduga menjadi penyebab utama labilnya struktur tanah, hingga tebing setinggi beberapa meter runtuh seketika dan menimbun para pekerja di bawahnya.
Peringatan Cuaca yang Terabaikan
Wali Nagari Guguak, Zainal, mengungkapkan bahwa pihak pemerintah nagari sebelumnya telah memberikan peringatan keras kepada warga untuk menghentikan sementara aktivitas tambang akibat cuaca buruk dan meningkatnya debit sungai.
"Terkait kondisi cuaca, kami dari pihak nagari sudah menyampaikan untuk menahan kegiatan tambang, tapi warga tetap melakukannya," ujar Zainal menjelaskan situasi sebelum kejadian.
Evakuasi dan Identitas Korban
Dikutip dari akun Ig @mata_rakyat24, tim penyelamat gabungan bersama warga setempat melakukan proses evakuasi intensif sejak waktu Zuhur hingga akhirnya dinyatakan selesai pada pukul 18.15 WIB. Seluruh korban yang berjumlah sembilan orang berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia (MD).
Mayoritas korban berasal dari Nagari Guguak dan Nagari Tanjung. Berikut adalah identitas sembilan korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut:
- Ujang Kandar (40)
- Haris (23)
- Atan (20)
- Baim (17)
- Acai (43)
- Marsel Buyuik (23)
- Ditol (40)
- Madi (24)
- Diok (22)
Kejadian ini kembali menjadi pengingat keras akan risiko tinggi aktivitas tambang ilegal, terutama saat kondisi cuaca ekstrem melanda wilayah Sumatra Barat. (HS)

