Scroll untuk melanjutkan membaca

Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar

Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar

Suaratebo.net, Padang, Sumatera Barat - Inovasi Trauma Healing, Boardgame Jadi Sarana Pemulihan Psikososial Pasca Banjir Bandang Sumbar

Upaya pemulihan pascabencana banjir bandang di Sumatera Barat kini memasuki babak baru. Tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur fisik, penguatan kesehatan mental masyarakat terdampak juga menjadi prioritas utama. Salah satu inisiatif yang menarik perhatian adalah Program Penguatan Kapasitas Layanan Psikososial yang memanfaatkan boardgame dan media terapi visual sebagai sarana trauma healing.

Program ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat kolaboratif lintas perguruan tinggi yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Kolaborasi ini melibatkan institusi besar seperti ITB, UIN Bandung, UNP, Unindra, dan UNAND.

Pendekatan Multidisiplin untuk Pemulihan Bencana

Kegiatan yang diketuai oleh Prof. Ramadhani Eka Putera dari SITH ITB ini berbasis di Kota Padang. Fokus utamanya adalah menyasar komunitas pendidikan, relawan, dan kelompok masyarakat yang aktif memberikan pendampingan psikososial.

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan sinergi antara Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) dari Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) dan Universitas Negeri Padang (UNP). Selain workshop, para relawan juga menerima hibah Therapy Kit sebagai senjata utama di lapangan.

Apresiasi dari Akademisi DKV

Ketua Program Studi DKV UNP, Hendra Afriwan, S.Sn., M.Sn., menilai kolaborasi ini sebagai praktik edukatif yang sangat relevan.

"Aktivitas workshop dan media terapi yang diselenggarakan secara kolaboratif antara DKV UNP dan DKV ITB menarik dan inspiratif. Permainan boardgame bukan hanya permainan, tetapi bisa membangun interaksi sosial, menjadi media terapi, dan menambah edukasi. Media boardgame patut kita kembangkan lebih jauh," ungkap Hendra.

Senada dengan hal tersebut, Arif Budiman, M.Kom., selaku Ketua Tim Penyelenggara Workshop dari DKV UNP, menekankan pentingnya aplikasi teknologi tepat guna.

"Workshopnya tidak hanya teoritis, tetapi kami benar-benar diajak memahami desain therapy kit dalam bentuk boardgame untuk trauma healing. Ini sangat bermanfaat menambah perspektif dalam bidang kami," jelasnya.

Mengapa Boardgame Efektif untuk Trauma Healing Anak?

Tim Pengabdian Pendampingan Psikososial UNP mencatat bahwa metode konvensional sering kali memiliki keterbatasan. Penggunaan media bermain edukatif dinilai lebih efektif menarik fokus anak-anak di pengungsian.

  • Interaktif & Fokus, Intan Slipilia, M.Si (Han) menjelaskan bahwa boardgame membuat anak-anak lebih fokus dibandingkan metode ceramah.
  • Media Transmedia "Genangan Indah", Memungkinkan anak berbagi cerita tentang pengalaman banjir dengan cara yang tidak menakutkan.

Media "Bayang-Bayang": Efektif untuk mereka yang sulit mengungkapkan emosi secara verbal.

Evelynd, S.I.Kom., M.Comn&M. menambahkan pengalaman lapangannya:

"Selama ini kami mendongeng menggunakan boneka tangan, tapi keterbatasannya terasa. Anak-anak di belakang sering tidak mendengar jelas. Dengan boardgame, interaksi menjadi lebih intensif."

Alternatif Edukatif untuk Mengurangi Ketergantungan Gawai

Dukungan juga datang dari praktisi pendidikan di Sumatera Barat. Miya Maharani, Ketua Yayasan Pelita Aksara (Sekolah Alam Minangkabau), mengaku terkesan dengan keragaman jenis boardgame yang ditawarkan.

"Biasanya yang kami temui hanya ular tangga atau monopoli. Tapi karya FSRD ITB ini berbeda, anak-anak jadi tidak cepat bosan. Ini juga menjadi alternatif sehat untuk mengurangi ketergantungan anak pada gawai," ujar Miya.

Rani Silvia, Ph.D., Pembina Rumah Belajar Rangkiang Ilmu, juga menambahkan bahwa media ini memperkaya metode relawan saat mendampingi anak-anak di posko pengungsian.

Memperkuat Ekosistem Relawan Lokal

Dr. Alvanov Zpalanzani Mansoor, ST., MM., Ketua Tim Layanan & Sarana Psikososial, menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah "pemberdayaan" relawan lokal.

"Fokus tim ini adalah penguatan kapasitas dan 'amunisi' untuk teman-teman relawan lokal. Mereka yang akan berinteraksi dengan penyintas lebih intens dan berdampak lama, ketimbang kami yang hanya bisa turun dalam hitungan hari," pungkasnya.

Kolaborator Program:

  • Perguruan Tinggi, ITB, UIN Bandung, UNP, UNINDRA, UNAND.
  • Komunitas & Mitra, Sekolah Alam Minangkabau, Rumah Belajar Rangkiang Ilmu, KIBA ITB, Vistalab Mediakreasi, dan ITBPress.

Dengan pendekatan yang humanis dan menyenangkan, program ini membuktikan bahwa pemulihan trauma pascabencana di Sumatera Barat dapat dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan melalui kekuatan desain dan permainan.

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar
  • Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar
  • Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar
  • Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar
  • Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar
  • Boardgame dan Kamishibai untuk Trauma Healing, Kolaborasi Kampus dan Sekolah Dukung Relawan Psikososial di Sumbar