Era Suku Bunga Tinggi Segera Berakhir, HSBC Prediksi BI Tinggal Naikkan BI Rate Sekali Lagi
![]() |
| Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann memaparkan proyeksi suku bunga Bank Indonesia dalam HSBC Indonesia Summit/ Ilustrasi (Generate by Gemini AI) |
Jakarta, Suaratebo.net – Sinyal berakhirnya era suku bunga tinggi di Indonesia kini makin kuat. Salah satu bank terbesar di dunia, HSBC, memproyeksikan langkah pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) melalui peningkatan suku bunga acuan (BI Rate) akan segera menemui titik akhir.
Langkah agresif penyesuaian suku bunga tinggi tersebut sebelumnya gencar dilakukan oleh bank sentral sejak awal tahun guna mengendalikan infasi serta menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Melansir DetikFinance, Chief Asia Economist & Co-head Global Investment Research Asia HSBC, Frederic Neumann, mengungkapkan bahwa sebagian besar tugas berat BI untuk menjaga stabilitas moneter sejatinya telah rampung.
"Kita hampir mencapai akhir siklus pengetatan moneter di Indonesia. Kita telah melihat BI mengambil langkah yang sangat agresif pada awal tahun ini, sehingga mereka sudah melakukan sebagian besar upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah," ujar Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit, Jakarta Selatan.
Proyeksi Kenaikan Suku Bunga Terakhir
Frederic menilai, respons cepat dan tegas dari Bank Indonesia berhasil membendung tekanan pada mata uang Garuda. Oleh karena itu, pihaknya memprediksi BI tidak perlu lagi menaikkan suku bunga secara sporadis.
"Kami memperkirakan akan ada satu kali lagi kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun ini, namun setelah itu siklus pengetatan tersebut akan berakhir," jelasnya.
Efektivitas kebijakan BI tersebut tercermin dari mulai stabilnya nilai tukar rupiah yang kini mampu menarik kembali arus modal asing (capital inflows) masuk ke pasar keuangan domestik. Untuk tahun depan, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan akan berada dalam kisaran yang relatif stabil dan sempit.
Optimalisasi Instrument SRBI
Lebih lanjut, jika ke depan dibutuhkan penyesuaian taktis di luar kenaikan suku bunga acuan tersebut, BI diperkirakan cukup mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara berkala.
"Jika ada perubahan kebijakan di luar satu kali kenaikan suku bunga tersebut, mungkin BI akan sesekali menggunakan SRBI untuk menyerap sebagian likuiditas guna menyesuaikan kondisi moneter secara lebih presisi. Namun, ini hanyalah penyesuaian minor," tutur Frederic.
Pertumbuhan Ekonomi dan Kredit Tetap Solid
Meski berada dalam era suku bunga tinggi, pengetatan moneter terbukti tidak melesukan urat nadi perekonomian nasional. Aktivitas sektor riil dan penyaluran kredit perbankan tercatat tetap tumbuh bergairah.
Meningkatnya arus kredit investasi dan modal kerja menjadi indikator kuat bahwa dunia usaha tetap optimis melakukan ekspansi di tengah pengetatan moneter.
"Apakah hal itu menghambat pertumbuhan? Kami tidak melihat adanya dampak demikian. Jika kita mencermati pertumbuhan penyaluran kredit perbankan, kredit investasi justru mengalami percepatan yang cukup signifikan, begitu pula dengan kredit modal kerja," ungkapnya.
Percepatan pertumbuhan kredit perbankan ini mengindikasikan bahwa dosis kebijakan pengetatan yang diterapkan oleh Bank Indonesia pas dan tidak berlebihan bagi ketahanan ekonomi nasional. (HS)
Selengkapnya Disini

