Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model

Perusahaan AI seperti Anthropic terungkap membeli, memindai, dan menghancurkan jutaan buku bekas demi melatih model AI tanpa membayar royalti.
Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model (Generate By Gemini A)

Jakarta, Suaratebo.net - Praktik kontroversial di industri kecerdasan buatan (artificial intelligence) kembali menyedot perhatian publik. Sejumlah perusahaan pengembang AI ternama dilaporkan menjalankan tren membeli jutaan buku bekas, memindainya ke bentuk digital, lalu memusnahkan sisa fisik buku-buku tersebut demi melatih model AI mereka.

Melansir CNN Indonesia, salah satu pengembang yang menjalankan metode ini adalah Anthropic, pembuat asisten AI Claude. Dokumen internal terbaru mengungkap adanya inisiatif rahasia bertajuk Project Panama yang dirancang khusus untuk mengeksekusi proses pencacahan buku tersebut secara tersembunyi dari publik.

Pihak manajemen Anthropic disebut sangat menyadari risiko buruk terhadap citra perusahaan jika praktik destruktif ini tercium media dan masyarakat umum.

"Kami tidak ingin ada yang tahu bahwa kami sedang mengerjakan proyek ini," tulis dokumen perencanaan internal Anthropic tahun 2024 yang diungkap oleh The Washington Post.

Memanfaatkan Celah Hukum dan Doktrin Penjualan Pertama

Bagi para pengembang AI, buku karya penulis profesional dinilai sebagai sumber data berkualitas tinggi untuk melatih kemampuan bahasa AI agar tidak meniru gaya penulisan internet yang cenderung berpolusi.

Untuk mendapatkan data teks berskala besar tanpa melanggar hak cipta secara langsung, perusahaan memanfaatkan celah hukum yang dikenal sebagai first-sale doctrine (doktrin penjualan pertama). Aturan ini memberi kebebasan bagi pembeli barang bekas untuk mengubah bentuk fisik barang yang telah dibeli sah secara hukum.

Dalam praktiknya, jutaan buku bekas dipotong menggunakan mesin hidraulik berkecepatan tinggi, dipindai halaman demi halaman, lalu sisa potongan kertas dihancurkan dan dikirim ke fasilitas daur ulang. Karena formatnya diubah (transformative) dari fisik ke digital untuk kebutuhan analisis internal bukan diperjualbelikan kembali langkah ini dianggap masuk dalam kategori penggunaan adil (fair use) sehingga perusahaan terhindar dari kewajiban membayar royalti kepada para penulis.

Jeratan Gugatan Hukum dan Perpustakaan Bayangan

Meski pengembang AI mengklaim metode pemusnahan buku bekas sah secara hukum, skandal pencurian data digital tetap membayangi mereka. Sebelum menjalankan Project Panama, Anthropic sempat mengunduh jutaan file dari LibGen, situs perpustakaan bayangan (shadow library) yang menyediakan buku-buku bajakan.

Penggunaan data bajakan inilah yang berujung pada gugatan hukum massal dari para penulis. Kasus tersebut akhirnya berujung pada kesepakatan damai dengan nilai ganti rugi fantastis mencapai US$1,5 miliar (sekitar Rp24 triliun).

Tak hanya Anthropic, dokumen pengadilan juga mengungkapkan bahwa raksasa teknologi Meta milik Mark Zuckerberg pernah mengambil jalur serupa dengan menyerap jutaan data buku dari platform tidak resmi seperti LibGen guna melatih model AI mereka. (HS)

Selengkapnya Disini

Baca Juga:
Tersalin 👍
Suaratebo
Suaratebo
PT Multimedia Suara Tebo

Berita Terbaru

  • Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model
  • Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model
  • Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model
  • Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model
  • Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model
  • Tren Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Bekas Demi Pelatihan Model