Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita!

Melansir CNBC Indonesia, penggerebekan rumah Wamen Perminyakan Irak bongkar simpanan cash Rp 251,3 M di balik dinding kolam renang.
Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita! (Generate By Gemini AI)

Suaratebo.net, Baghdad – Sebuah drama penggerebekan kasus korupsi besar-besaran kembali mengguncang Irak. Penyelidik dikejutkan dengan penemuan uang tunai fantastis senilai US$ 14 juta atau setara dengan Rp 251,3 miliar yang disembunyikan secara rapi di balik dinding rumah Wakil Menteri (Wamen) Perminyakan untuk Urusan Distribusi Irak, Ali Maarij Al Bahadly, pada akhir pekan kemarin.

Melansir CNBC Indonesia dari The National News, penemuan ini merupakan bagian dari operasi pembersihan koruptor skala besar yang diperintahkan langsung oleh Perdana Menteri baru Irak, Ali al-Zaidi. Sejak dilantik pada 14 Mei lalu, pemerintahan Al-Zaidi bergerak agresif dan dilaporkan sempat mencetak rekor dengan menangkap 47 koruptor hanya dalam waktu satu hari, yang melibatkan jajaran pejabat kabinet hingga anggota parlemen (DPR).

Detik-Detik Pembongkaran Dinding Berisi Koper Uang

Hakim Ketua Pengadilan Kriminal Pusat untuk Korupsi Irak mengonfirmasi bahwa tumpukan uang tunai tersebut ditemukan dalam fase penyelidikan awal. Hingga saat ini, proses investigasi mendalam masih terus berjalan secara intensif.

"Uang tunai tersebut ditemukan selama penyelidikan awal. Investigasi masih berlangsung," tegas sang hakim ketua.

Berdasarkan foto resmi yang dirilis oleh Dewan Kehakiman Irak, operasi penggerebekan ini berlangsung dramatis. Para penyelidik terpaksa menggunakan palu bor (drill hammer) untuk menjebol dinding beton tipis yang berada di area gedung kolam renang milik sang wamen. Di tepi kolam renang berubin biru yang dalam kondisi kosong tersebut, puing-puing beton tampak berserakan.

Dari balik lubang persegi panjang yang berhasil dibongkar, petugas menemukan beberapa koper besar dalam kondisi terbuka. Di dalamnya, berjejal tumpukan uang kertas pecahan Dolar AS dan Dinar Irak yang diikat sangat rapat. Total uang tunai tersebut terdiri atas:

  • US$ 11 juta dalam bentuk mata uang Dolar AS.
  • 4 miliar Dinar Irak (setara dengan US$ 3 juta).

Selain koper berisi uang, penyelidik juga menyita sejumlah kotak penyimpanan barang mewah, yang salah satunya berisi jam tangan mewah Rolex berwarna emas.

Posisi Strategis dan Sorotan Publik

Sebagai Wamen Perminyakan untuk Distribusi, Ali Maarij Al Bahadly memegang portofolio yang sangat basah dan sensitif. Ia bertanggung jawab penuh dalam mengawasi alokasi serta penjualan produk bahan bakar olahan di Irak. Jabatan ini membuatnya berhubungan langsung dengan para pedagang bahan bakar swasta, perusahaan distribusi besar, hingga penentuan kuota pasokan bahan bakar di berbagai provinsi.

Kini, Al Bahadly telah resmi ditahan dan harus menghadapi dakwaan di Pengadilan Pidana Anti-Korupsi Pusat di Baghdad. Pengadilan khusus ini sengaja dibentuk untuk mengadili kasus kejahatan keuangan kakap yang melibatkan pejabat tinggi negara, sekaligus menjadi simbol dari komitmen pemerintah bahwa tidak ada satu pun pejabat yang kebal hukum.

Sejauh ini, pemerintahan PM Ali al-Zaidi mengklaim telah berhasil memulihkan miliaran dinar uang negara, menyita berbagai aset properti mewah baik di dalam negeri (Baghdad) maupun di luar negeri, serta menjebloskan sejumlah pejabat korup ke penjara.

Langkah berani ini dinilai para analis sebagai upaya meredam kemarahan publik atas korupsi yang sudah lama mengakar di Irak. Berdasarkan data dari gerakan anti-korupsi global, Transparency International, masalah korupsi sistemis memang menjadi persoalan paling mendesak yang dihadapi pemerintahan Irak saat ini.

Skeptisisme Pengamat: Apakah Akan Konsisten?

Meski mendapat apresiasi luas dari masyarakat, tidak sedikit pengamat politik yang memandang skeptis keberlanjutan operasi bersih-bersih ini. Harith Hasan, seorang peneliti senior di lembaga think tank Arab Centre for Research and Policy Studies, menilai bahwa kampanye anti-korupsi di Irak biasanya memiliki batas toleransi politik.

"Saya memperkirakan kampanye ini akan melambat atau berhenti begitu upaya penegakan hukum mulai menimbulkan biaya politik, keamanan, atau risiko sistemik yang signifikan bagi elite penguasa," ujar Hasan. Ia juga menambahkan bahwa penegakan hukum sering kali bersifat selektif ketimbang konsisten.

Kendati demikian, untuk saat ini, sinyal dari Baghdad menunjukkan bahwa genderang perang terhadap korupsi belum usai, dan gelombang penangkapan pejabat korup lainnya diprediksi masih akan terus berlanjut. (HS)

Selengkapnya Disini

Baca Juga:
Tersalin 👍
Suaratebo
Suaratebo
PT Multimedia Suara Tebo

Berita Terbaru

  • Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita!
  • Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita!
  • Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita!
  • Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita!
  • Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita!
  • Dinding Kolam Renang Dibongkar, Uang Tunai Rp 251,3 Miliar Milik Wamen Perminyakan Irak Disita!