Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang

Melansir CNBC Indonesia, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sebut APBN amat sehat karena surplus keseimbangan primer Mei 2026 tembus Rp58,6 triliun.
Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang (Generate By Gemini AI)

Suaratebo.net, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini berada dalam posisi yang amat sehat. Pemerintah memastikan memiliki ruang fiskal dan dana yang cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo.

Melansir CNBC Indonesia, optimisme ini didasarkan pada catatan positif di mana Indonesia kembali membukukan surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun per Mei 2026. Sebagai informasi, keseimbangan primer adalah indikator kinerja fiskal di mana total pendapatan negara melampaui belanja negara, di luar alokasi pembayaran bunga utang.

APBN Sehat, RI Tidak Perlu Gali Lubang Tutup Lubang

Dengan posisi keseimbangan primer yang positif, struktur anggaran negara dinilai sangat berkesinambungan. Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa Indonesia kini tidak perlu lagi melakukan penarikan utang baru hanya demi membayar pokok maupun bunga utang yang lama.

"Di Mei 2026, kita mengalami lagi keseimbangan primer, sudah mencapai Rp58,6 triliun. Kalau keseimbangan primer positif artinya anggarannya berkesinambungan, artinya kita punya cukup uang untuk membayar utang," kata Purbaya dalam program Economic Update 2026 CNBC Indonesia, dikutip Senin (22/6/2026).

Indikator Fiskal: "Jadi kalau positif, artinya kita masih enggak harus bayar utang pakai utang, bunga utang pakai utang, jadi cukup. Itu dipakai acuan untuk melihat kondisi APBN-nya berkesinambungan atau tidak. Jadi kita sekarang amat sehat," lanjutnya.

Strategi Diversifikasi Global: Penerbitan Panda Bond di China

Guna memperkuat likuiditas dan memperluas sumber pembiayaan, Kementerian Keuangan terus melakukan diversifikasi instrumen di pasar internasional. Salah satu langkah taktis yang diambil adalah mempromosikan penerbitan obligasi berdenominasi Yuan, atau Panda Bond, langsung di China.

Melansir CNBC Indonesia, Menkeu Purbaya dijadwalkan bertolak ke China untuk agenda promosi tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan investor (investor meeting) di Inggris. Langkah safari pasar ini bertujuan meyakinkan para investor Eropa bahwa arah kebijakan ekonomi makro Indonesia tetap solid, sehingga menjaga pergerakan imbal hasil (yield) SBN tetap stabil.

Tren Profil Utang Jatuh Tempo Pemerintah (2027–2036)

Berdasarkan data terbaru kementerian keuangan, berikut adalah rincian proyeksi profil utang jatuh tempo pemerintah yang telah mencakup instrumen SBN Surat Keputusan Bersama (SKB) penanganan Covid-19:


Meskipun beban jatuh tempo terlihat mengalami puncaknya pada periode 2027 hingga 2028, tren setelah kurun waktu tersebut menunjukkan penurunan yang konsisten secara bertahap hingga tahun 2036. Tata kelola manajemen utang yang pruden dan disiplin anggaran diharapkan mampu memitigasi risiko fiskal di masa depan. (HS)


Baca Juga:
Tersalin 👍
Suaratebo
Suaratebo
PT Multimedia Suara Tebo

Berita Terbaru

  • Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang
  • Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang
  • Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang
  • Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang
  • Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang
  • Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun, Menkeu Purbaya: Indonesia Cukup Uang Bayar Utang