Soroti Anggaran IKN Rp147 Triliun, Dahlan Iskan Kritik Efisiensi Ekonomi Proyek Ibu Kota Baru
![]() |
| Soroti Anggaran IKN Rp147 Triliun, Dahlan Iskan Kritik Efisiensi Ekonomi Proyek Ibu Kota Baru (Generate By Gemini AI) |
Suaratebo.net, Jakarta – Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus tokoh pers nasional, Dahlan Iskan, memberikan catatan kritis terhadap kelanjutan proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek infrastruktur raksasa yang menjadi warisan dari era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut disoroti tajam dari sudut pandang efisiensi ekonomi investasi nasional.
Menurut analisis Dahlan Iskan, total alokasi dana anggaran yang telah terserap dan digelontorkan untuk mendanai mega proyek mercusuar tersebut diperkirakan telah menyentuh angka sekitar Rp147 triliun. Kendati demikian, ia menilai bahwa output serta asas kemanfaatan nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat maupun perekonomian nasional hingga saat ini masih belum terlihat jelas.
Pertanyakan Output Investasi Ratusan Triliun
Dahlan Iskan secara terbuka mempertanyakan timbal balik atau return on investment yang didapatkan negara dari pembiayaan masif di penunjang ibu kota baru tersebut. Ia menilai pengeluaran tersebut belum memberikan dampak instan yang sepadan bagi ruang ekonomi publik.
"Kita mengeluarkan sekian ratus triliun di IKN, kita dapat apa? Akan dapat apa? Belum dapat apa-apa lho," ujar Dahlan Iskan saat memberikan pandangannya di Jakarta.
Dikutip inilah.com Senin, 18 Mei 2026, pria yang akrab dijuluki sebagai "Raja Koran" tersebut menilai bahwa proyek IKN merefleksikan masih lemahnya penerapan prinsip ekonomi investasi yang fundamental di tataran kebijakan strategis pemerintah.
Sorotan terhadap Rasio ICOR IKN yang Lemah
Lebih lanjut, pendiri Harian Jawa Pos ini menekankan pentingnya indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dalam mengukur efektivitas sebuah proyek pembangunan berskala besar. Sebagai informasi, ICOR merupakan parameter makroekonomi yang membandingkan besaran investasi yang dikeluarkan dengan output atau hasil pertumbuhan ekonomi yang berhasil diperoleh negara.
Rasio ICOR yang tinggi atau membengkak mengindikasikan bahwa investasi yang ditanamkan kurang efisien karena membutuhkan modal yang sangat besar untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks pembangunan IKN, Dahlan Iskan mengkhawatirkan alokasi anggaran ratusan triliun tersebut justru terjebak dalam produktivitas yang rendah, mengingat return ekonomi jangka pendek dan menengah yang masih bersifat spekulatif.
Kritik ini menjadi diskursus penting di tengah upaya pemerintah dalam menarik minat investor swasta dan asing guna mengurangi ketergantungan pembangunan infrastruktur IKN dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (HS)

