Saudi dan Kuwait Cabut Pembatasan, Militer AS Siap Amankan Kembali Selat Hormuz
![]() |
| Saudi dan Kuwait Cabut Pembatasan, Militer AS Siap Amankan Kembali Selat Hormuz |
Suaratebo.net, Riyadh - Angin segar berembus bagi operasi militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Arab Saudi dan Kuwait secara resmi mencabut pembatasan akses pangkalan militer dan wilayah udara bagi pasukan AS. Langkah ini menjadi titik balik penting dalam upaya Washington mengamankan jalur perdagangan di Selat Hormuz yang sempat lumpuh akibat perang.
Melansir laporan Wall Street Journal (WSJ), Jumat (8/5/2026), keputusan dua negara Teluk tersebut menghapus hambatan logistik utama bagi pemerintahan Presiden Donald Trump. Sebelumnya, pembatasan akses sempat diberlakukan menyusul eskalasi konflik yang melibatkan aset militer AS di kawasan tersebut sejak Februari lalu.
Persiapan Operasi Project Freedom
Dengan dicabutnya larangan ini, Pentagon kini tengah mengevaluasi jadwal untuk melanjutkan misi pengawalan kapal komersial. Berdasarkan informasi dari pejabat AS dan Saudi, operasi ini diperkirakan akan dimulai kembali paling cepat minggu ini.
"Pemerintahan Trump sedang bersiap memulai kembali operasi pengawalan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dengan dukungan penuh Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS," tulis laporan WSJ yang dikutip detikcom.
Sebelumnya, misi yang dikenal dengan nama "Project Freedom" ini sempat dihentikan sementara oleh Trump pada Selasa (5/5) lalu, setelah hanya sempat beroperasi selama 36 jam. Meski pengawalan sempat terhenti, blokade laut AS terhadap lalu lintas maritim Iran ditegaskan tetap berlaku sepenuhnya.
Dinamika Konflik dan Gencatan Senjata yang Rapuh
Ketegangan di kawasan ini mencapai puncaknya setelah serangan skala besar diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Teheran membalas dengan menghujani rudal dan drone ke arah Israel serta negara-negara tetangga yang menampung pangkalan militer AS.
Akibat pertempuran tersebut, jalur vital Selat Hormuz praktis tertutup bagi pelayaran internasional. Upaya diplomasi sebenarnya telah dilakukan melalui mediasi Pakistan di Islamabad sejak 8 April lalu. Namun, perundingan tersebut gagal membuahkan kesepakatan damai permanen, sehingga memaksa Trump memperpanjang status gencatan senjata tanpa batas waktu yang pasti.
Dampak bagi Pelayaran Global
Langkah Saudi dan Kuwait ini dianggap krusial untuk:
- Memulihkan Kebebasan Navigasi, Menjamin keamanan kapal tangker minyak dan kargo di salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia.
- Stabilitas Ekonomi, Mengurangi ketidakpastian pasar energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
- Penguatan Aliansi, Menunjukkan kembalinya koordinasi militer antara blok Barat dengan negara-negara Teluk dalam menghadapi ancaman regional.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Departemen Pertahanan AS masih mematangkan strategi teknis agar dimulainya kembali operasi pengawalan tidak memicu gesekan baru yang dapat merusak gencatan senjata yang tengah berlangsung. (HS)

