Perhiptani Tebo Sukses Selenggarakan Rakerda dan FGD

Perhiptani Tebo Sukses Selenggarakan Rakerda dan FGD


Suaratebo.net - Membaca beberapa referensi, aktifitas penyuluhan pertanian sejatinya sudah dimulai sejak lama, bahkan sudah dimulai sejak manusia mengenal cara bercocok tanam. Namun dalam catatan sejarah pertanian dunia, bangkitnya kegiatan penyuluhan pertanian tercatat pada tahun 1847, dimana pada waktu itu di Irlandia sedang terjadi serangan penyakit pada tanaman kentang secara meluas, dan sejak saat itu peran penyuluhan pertanian semakin dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh para petani (Jones, 1982), dan sejak saat itu, profesi penyuluh pertanian mulai dakui eksistensinya.

Sementara di Indonesia, menurut Prof. Iso Hadiprojo, guru besar Institut Pertanian Bogor, penyuluhan pertanian diakui sebagai sebuah profesi sejak tahun 1905, ditandai dengan berdirinya Departemen Pertanian pada pemerintahan Hindia Belanda. Namun demikian pada saat itu peran penyuluh pertanian tidak lebih sebagai alat untuk membantu program tanam paksa yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Sementara eksistensi penyuluh pertanian sebagai bagian penting dalam pembangunan pertanian di Indonesia dimulai pada tahun 1960, seiring dibukanya program study Penyuluhan Pertanian di beberapa Perguruan tinggi ternama seperti IPB dan UGM serta mulai didirikannya Sekolah Penyuluhan Pertanian Menegah Atas (SPPMA) di beberapa daerah di Indonesia..

Di lingkungan Departemen Pertanian sendiri, pengakuan penyuluh pertanian sebagai sebuah profesi, baru terwujud pada tahun 1967 pada saat dibentuknya lembaga Bimas (Bimbingan Massal) yang mewadahi para penyuluh pertanian, dan sejak saat itu rekruitmen tenaga penyuluh pertanian dilakukan secara besar-besaran, karena keberadaan penyuluh pertanian mulai dibutuhkan untuk mendukung program pertanian di Indonesia. Berbeda dengan pegawai fungional lainnya seperti guru, dokter atau bidan yang sudah terlebih dahulu diakui eksistensinya, profesi penyuluh pertanian baru dimasukkan sebagai jabatan fungsional pada tahun 1976 (Totok Mardikanto, 2009)

Sebagaimana umumnya sebuah profesi, keberadaan para penyuluh pertanian di Indonesia yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang itu, tentu dibutuhkan sebuah organisasi yang bisa menaungi dan menfasilitasi kepentingan para penyuluh pertanian. Meski kesannya sangat terlambat, namun keberadaan organisasi tempat bernaungnya para penyuluh pertanian, dirasakan sangat mendesak. Atas prakarsa para penyuluh senior dan pejabat di lingkungan Departemen Pertanian, dibentuklah sebuah organisasi bagi para penyuluh pertanian yang kemudian diberi nama Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) pada tanggal 6 Juli 1987 di Subang, Jawa Barat. 

Agak terlambat memang, jika dibandingkan dengan organisasi profesi lainnya seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang sudah berdiri sejak 25 Nopember 1945, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang sudah berdiri tanggal 30 Juli 1950 dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang berdiri sejak 24 Juni 1951. Bahkan dengan para petani nelayanpun, Perhiptani masih kalah tua, karena para petani dan nelayan Indonesia sudah mendirikan organisasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) pada tanggal 12 Septemer 1981.

Meski tergolong terlambat pembentukan Perhiptani sebagai wadah organisasi penyuluh pertanian di Indonesia umumnya dan Kabupaten Tebo khususnya, keberadaan organisasi harus tetap tampil sebagai rumah bersama keluarga besar Penyuluh Pertanian sehingga aspirasi para penyuluh pertanian juga tersalurkan dan semakin dirasakan oleh para penyuluh pertanian yaitu dengan memberikan masukan pemikiran atau rekomendasi dari organisasi sehingga menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang bersinggungan dengan penyuluhan pertanian. 

Harapan lainnya semoga DPD Perhiptani Tebo istiqomah memfasilitasi dan memperjuangkan kepentingan penyuluh pertanian, termasuk didalamnya memperjuangkan peningkatan kesejahteraan penyuluh.

Namun juga diakui, bahwa peran Perhiptani baik di tingkat pusat maupun daerah saat ini belum optimal. Salah satu penyebab belum optimalnya peran oragnisasi penyuluh ini, akibat para penyuluh pertanian sendiri yang notabene sebagai anggota Perhiptani belum mampu untuk meningkatkan peran mereka sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Perhiptani. Hal itu di ungkapkan oleh Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Tebo, Atmahendra, SP, saat sambutan pembukaan Rakerda (Rapat Kerja Daerah) dan FGD (Focus Group Discussion) dengan para penyuluh pertanian Kabupaten Tebo yang digelar di Aula Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Ketahanan Pangan, Senin (05/10/2020) dengan tema Penguatan Peran Penyuluh dalam Pembangunan Pertanian menuju Tebo Tuntas 2020. Acara tersebut dibuka oleh Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Ketahanan Pangan Ade Nofriza, S.STP., M.A.P. Tampak hadir dalam acara tersebut Para Kepala Bidang dan Kepala Seksi Lingkup Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tebo.

Dihadapan peserta Rakerda dan FGD yang mewakili para penyuluh pertanian dari semua kecamatan Se-Kabupaten Tebo, Atma menghimbau kepada para peserta untuk terus membesarkan dan memperkuat peran Perhiptani. Salah satunya dengan cara membesarkan dan memperkuat peran organisasi, lebih sering berkontribusi dalam mendukung kebijakan pertanian yang berpihak kepada penyuluh dan mendorong para penyuluh untuk terlibat aktif dalam pembangunan pertanian di daerah masing-masing.

Supaya bisa memberikan kontribusi, para pengurus dan anggota DPD Perhiptani harus aktif melakukan pendekatan dengan pihak eksekutif maupun legislatif, misalnya dengan menggelar pertemuan atau audiensi secara rutin dengan unsur-unsur pimpinan daerah atau penentu kebijakan di daerah, sehingga nantinya bisa memberikan informasi atau masukan dalam mendukung pembangunan pertanian.

Lebih lanjut Atma menyatakan, bahwa para penyuluh yang tergabung dalam wadah Perhiptani Tebo cukup beruntung, karena saat ini Instansi tempat bernaung Penyuluh Pertanian, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Ketahanan Pangan dipimpin Kepala Dinas Bapak H. Muhammad Ziadi, SP., M.Si yang sangat dekat dengan dunia penyuluh pertanian bahkan pernah berkecimpung sebagai penyuluh dulunya pungkasnya. (HS)