Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi?

Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi/Gambar Ilustrsi AI

Suaratebo.net, Jakarta – Tren perburuan kartu Pokemon di Indonesia kembali mencapai puncaknya pada tahun 2026. Sempat meredup pasca-pandemi, kini ekosistem kolektor kartu Pokemon bergeliat hebat dengan nilai transaksi yang fantastis, bahkan menyentuh angka miliaran rupiah untuk satu keping kartu langka.

Melansir laporan dari CNBC Indonesia, kebangkitan "Demam Pokemon" kali ini dipicu oleh momentum HUT ke-30 Pokemon pada Februari 2026 serta pengaruh besar dari para influencer global dan lokal yang kembali memamerkan koleksi eksklusif mereka.

Kartu Pikachu Mario & Luigi Dibanderol Seharga Rumah Mewah

Dalam sebuah gelaran komunitas di Blok M, Jakarta Selatan, ditemukan set kartu langka bergambarkan Pikachu mengenakan kostum Mario dan Luigi. Harga yang ditawarkan tidak main-main, yakni mencapai Rp1,5 miliar.

Kevin, seorang kolektor kawakan, menjelaskan bahwa kelangkaan menjadi faktor utama meroketnya harga tersebut.

"Hype-nya lagi naik drastis karena momentum 30 tahun Pokemon tahun ini. Namanya barang langka, jumlahnya sangat terbatas, itulah yang membuat harganya terus terkerek naik," ujar Kevin kepada CNBC Indonesia.

Sebagai gambaran nilai investasi, sebuah kartu yang dibeli Kevin pada tahun 2024 seharga Rp300.000, kini nilainya sudah melonjak hingga Rp2 juta di pasar kolektor.

Rahasia di Balik Harga Selangit, Karakter dan Grading PSA

Mengapa selembar kartu kertas bisa dihargai ratusan juta hingga miliaran? Yongki, pemilik gerai kartu di Agora Mall, membeberkan beberapa indikator utama:

  • Karakter Ikonik, Pikachu dan Charizard tetap menjadi primadona. Sebagai maskot, karakter ini memiliki basis penggemar paling loyal.
  • Kondisi Fisik & Grading, Kartu yang telah melalui proses penilaian oleh Professional Sport Authenticator (PSA) asal Amerika Serikat memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.
  • Skor PSA 10, Jika sebuah kartu mendapatkan nilai 10 (sempurna), harganya bisa melonjak berkali-kali lipat dibandingkan kartu tanpa penilaian.
  • Tingkat Rarity, Hierarki kelangkaan seperti Secret Rare (UR/SAR) hingga kartu keluaran tahun lama (seperti edisi 1998) menjadi incaran utama para kolektor "kakap".

Rekor Dunia, Kartu Pokemon Logan Paul Laku Rp282 Miliar

Fenomena di Indonesia ini sejalan dengan tren global. Megabintang WWE dan YouTuber, Logan Paul, baru saja memecahkan rekor dunia Guinness World Records setelah menjual kartu Pikachu Illustrator miliknya melalui lelang Goldin Auctions.

Kartu tersebut terjual seharga US$16,49 juta atau setara dengan Rp282,5 miliar. Kartu milik Paul dianggap sebagai "Cawan Suci" (Holy Grail) karena merupakan satu-satunya di dunia yang mendapatkan peringkat PSA Grade 10.

Berburu di Marketplace Lokal

Tak hanya di gerai fisik, perputaran uang di pasar digital pun sangat masif. Berdasarkan penelusuran di Tokopedia, kartu Pikachu Team Skull 2016 dibanderol hingga Rp400 juta, sementara edisi Pikachu Battle Festa 2017 menyentuh angka Rp100 juta.

Bagi kolektor seperti Keni, hobi ini bukan sekadar soal uang. Meski tawaran puluhan juta rupiah terus berdatangan untuk kartu Pikachu langkanya, ia memilih bertahan.

"Mendapatkannya butuh perjuangan (effort). Sebagai kolektor, bukan berarti selamanya soal uang," pungkasnya. (HS)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi?
  • Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi?
  • Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi?
  • Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi?
  • Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi?
  • Menggila! Harga Kartu Pokemon di Indonesia Tembus Rp1,5 Miliar, Investasi Masa Depan atau Sekadar Hobi?