| Pulihkan Trauma Anak Pasca-Bencana di Sumatera, Buku Anak dan Kamishibai Jadi Media Terapi Psikososial Efektif |
Suaratebo.net, Sumbar – Upaya pemulihan pasca-bencana banjir yang melanda Sumatera Barat dan Sumatera Utara kini memasuki babak baru. Fokus pemerintah dan relawan tidak lagi hanya pada perbaikan fisik, melainkan juga penguatan layanan psikososial bagi para penyintas, terutama anak-anak.
Melalui pendekatan kreatif, kolaborasi lintas institusi menghadirkan media bercerita interaktif berupa buku anak dan Kamishibai sebagai instrumen terapi emosional di posko pengungsian dan wilayah terdampak. Pegagas kelas ilustrasi buku anak (KIBA), Dr. Riama Sihombing, M.Ds. sebagai mitra ia juga menuturkan "Keragaman cerita yang tumbuh dari budaya, bahasa, dan ruang belajar anak Indonesia termasuk karya-karya kampus FSRD ITB, bukan sekadar bacaan, melainkan cara menemani dan memperkaya pengalaman anak di wilayah bencana" jelasnya mengatakan.
KIBA ITB, Mengubah Buku Anak Menjadi Media Terapi
Salah satu motor penggerak program ini adalah Kelas Ilustrasi Buku Anak (KIBA ITB), sebuah program unggulan dari Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (DKV ITB). Di bawah kepemimpinan Dr. Riama Maslan, mahasiswa dilibatkan penuh dalam menciptakan buku yang tidak sekadar berfungsi sebagai media literasi.
Dalam konteks kebencanaan, buku-buku ini diposisikan sebagai "jembatan komunikasi". Narasi yang dekat dengan dunia anak membantu mereka mengekspresikan perasaan dan memahami pengalaman traumatis dengan cara yang lebih aman dan suportif.
Mengenal Kamishibai, Teknologi Bercerita dari Jepang
Selain buku konvensional, program ini memperkenalkan Kamishibai, media bercerita visual asal Jepang yang menggunakan bingkai kayu. Media ini dikembangkan dalam penelitian Dr. Alvanov Zpalanzani sebagai alat pendampingan psikososial yang sangat efektif.
Berbeda dengan buku biasa, Kamishibai memungkinkan:
- Interaksi Langsung, Pendongeng dan audiens berdialog secara dua arah.
- Fokus Terjaga, Ilustrasi visual yang besar membantu anak-anak tetap fokus di tengah situasi darurat.
- Ruang Ekspresi, Memancing anak-anak untuk berbagi pengalaman dan mengelola emosi secara bertahap.
Distribusi 'Therapy Kit' ke Komunitas Lokal
Media buku dan Kamishibai ini disalurkan dalam bentuk therapy kit kepada berbagai mitra di lapangan, seperti Sekolah Alam Minangkabau, Rumah Belajar Rangkiang Ilmu, serta jaringan relawan di Sumatera Barat dan Utara.
Rani Silvia, Ph.D., Pembina Rumah Belajar Rangkiang Ilmu, menyambut baik inovasi ini. Menurutnya, metode ini memberikan warna baru dalam pendampingan anak di pengungsian.
"Buku anak dan Kamishibai menjadi pendekatan baru yang memperkaya metode pendampingan relawan. Media bercerita ini membantu relawan mengajak anak-anak berbicara tentang pengalaman mereka dengan cara yang lebih ringan dan terstruktur," ujar Rani.
Senada dengan hal tersebut, Miya Maharani, Ketua Yayasan Pelita Aksara (Sekolah Alam Minangkabau), menekankan pentingnya ruang aman bagi anak.
"Media bercerita visual sangat relevan untuk konteks pemulihan pascabencana. Cerita dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk melepaskan trauma, sekaligus menjaga keberlanjutan proses belajar di tengah situasi darurat," jelas Miya.
Memperkuat Kapasitas Relawan Lokal
Program ini tidak hanya mendistribusikan barang, tetapi juga membekali relawan melalui pelatihan khusus. Relawan diajarkan menjadi fasilitator yang empatik, bukan sekadar pembaca cerita profesional.
Dr. Alvanov Zpalanzani Mansoor, Ketua Tim Program Penguatan Kapasitas Layanan Psikososial, menegaskan pentingnya pendekatan yang natural.
"Seperti halnya Boardgame yang kami posisikan sebagai teknologi tepat guna—Buku Anak dan Kamishibai adalah media yang mudah digunakan, adaptif di lapangan, dan mampu membangun interaksi yang aman," tegas Dr. Alvanov.
Ia menambahkan bahwa fokus utama program ini adalah memperkuat kapasitas relawan lokal agar mereka memiliki instrumen yang berdampak untuk pemulihan jangka panjang. "Pendekatan interaktif berbasis cerita ini memungkinkan relawan masuk ke ruang emosi penyintas secara natural tanpa tekanan," pungkasnya.
Sinergi Akademik dan Komunitas untuk Pemulihan Berkelanjutan
Kolaborasi antara dunia akademik (ITB), komunitas literasi, dan relawan lapangan membuktikan bahwa seni dan cerita bisa menjadi "teknologi tepat guna" yang sangat berharga dalam situasi krisis. Dengan buku dan Kamishibai, proses penyembuhan trauma anak-anak pasca-bencana diharapkan dapat berjalan lebih cepat, manusiawi, dan berkelanjutan. (HS)



