![]() |
| Menyelami Makna Isra Miraj, Perjalanan Cinta dan Jemputan Langit Rasulullah SAW/Ai |
Suaratebo.net - Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam mengenang sebuah peristiwa yang melampaui batas logika manusia: Isra Miraj. Namun, ini bukan sekadar perjalanan fisik dari Makkah ke Yerusalem lalu ke langit ketujuh. Ini adalah kisah tentang penghiburan Tuhan kepada kekasih-Nya yang sedang terluka.
Hadiah di Tengah Puncak Kesedihan (Amul Huzni)
Sebelum peristiwa ini terjadi, Rasulullah SAW berada dalam fase terberat hidupnya. Beliau kehilangan dua pilar kekuatannya, Siti Khadijah (istri tercinta) dan Abu Thalib (paman sekaligus pelindung). Di saat manusia bumi menyakiti dan memboikot beliau, Allah SWT mengundang beliau ke langit.
Pesan Bermakna, Isra Miraj mengajarkan kita bahwa ketika seluruh pintu di bumi tertutup, pintu langit selalu terbuka bagi mereka yang bersabar.
Isra' Menyatukan Dua Tanah Suci
Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa menggunakan Buraq melambangkan hubungan tak terputus antara ajaran para nabi. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah mengimami seluruh nabi terdahulu. Ini adalah simbol bahwa beliau adalah penyempurna risalah tauhid di muka bumi.
Miraj, Puncak Pendakian Spiritual
Di Sidratul Muntaha, tempat di mana Jibril AS sekalipun tidak diizinkan masuk, Rasulullah berdialog langsung dengan Allah SWT. Di sinilah terjadi peristiwa monumental: Perintah Salat.
Jika nabi-nabi lain menerima wahyu di bumi, perintah salat langsung diberikan di langit. Ini menunjukkan betapa istimewanya salat. Salat adalah "Miraj"-nya orang beriman—sarana bagi kita untuk "naik" menemui Tuhan dan melepaskan beban dunia sejenak.
Rasulullah kembali ke bumi bukan membawa harta atau kekuasaan, melainkan membawa kewajiban salat 5 waktu. Salat adalah hadiah bagi umat manusia agar mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi ujian hidup, sebagaimana Rasulullah dikuatkan melalui perjalanan tersebut.
Hikmah untuk Kehidupan Modern
Di era yang serba cepat ini, 27 Rajab mengingatkan kita untuk:
- Berhenti Sejenak, Sebagaimana Rasulullah "diambil" dari hiruk pikuk Makkah, kita butuh salat untuk rehat dari hiruk pikuk dunia.
- Keyakinan di Atas Logika, Mengimani Isra Miraj adalah tentang membenarkan kekuasaan Allah di atas keterbatasan akal manusia.
- Optimisme, Sesudah kesulitan (wafatnya Khadijah & Abu Thalib), pasti ada kemuliaan (Isra Miraj).
Referensi Sumber Artikel
- Surah Al-Isra Ayat 1: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..."
- Shahih Bukhari & Muslim: Hadits panjang mengenai perjalanan Miraj dan proses negosiasi waktu salat.
- Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam): Catatan sejarah mengenai respon kaum Quraisy pasca peristiwa tersebut.
- Fiqhus Sirah (Syeikh Muhammad Al-Ghazali): Analisis mendalam tentang sisi psikologis Rasulullah saat Isra Miraj.
