![]() |
| Kabinet Israel Memanas! Menteri Netanyahu 'Ngamuk' soal Gencatan Senjata Versi Trump/Gambar Iustrasi AI |
Suaratebo.net - Suasana internal pemerintahan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan tengah memanas. Sejumlah menteri dalam kabinet keamanan Israel mengekspresikan kemarahan besar setelah pengumuman gencatan senjata di Lebanon disampaikan secara mendadak oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dilansir dari Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Jumat (17/4/2026), kemarahan ini dipicu oleh sikap Netanyahu yang hanya memberikan informasi melalui sambungan telepon singkat pada Kamis (16/4). Kabarnya, panggilan tersebut hanya berlangsung beberapa menit tanpa disertai sesi pemungutan suara (voting) yang biasanya menjadi prosedur standar dalam pengambilan keputusan strategis militer.
Intervensi Trump dan Tekanan 10 Hari
Berdasarkan laporan media lokal Yedioth Ahronoth, Netanyahu berdalih bahwa keputusan kilat tersebut diambil atas permintaan langsung dari Donald Trump. Gencatan senjata selama 10 hari ini mulai berlaku sejak Kamis (16/4) tengah malam waktu setempat. Meski gencatan senjata berjalan, pasukan Israel (IDF) dilaporkan tetap bertahan di posisi tempur mereka di wilayah Lebanon selatan.
Laporan televisi lokal KAN menyebutkan bahwa ketergesaan ini membuat Netanyahu tidak sempat memberikan pengarahan mendetail kepada jajaran kabinetnya mengenai poin-poin kesepakatan yang dimediasi oleh Washington tersebut.
Oposisi Sebut Sebagai Pengkhianatan
Langkah sepihak ini pun menjadi peluru bagi tokoh-tokoh oposisi untuk menyerang pemerintah. Pemimpin oposisi Yair Lapid menyindir keras kegagalan janji pemerintah di media sosial X. Sementara itu, Avigdor Lieberman, pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, menggunakan diksi yang lebih tajam.
"Gencatan senjata di Lebanon adalah pengkhianatan terhadap penduduk di wilayah Israel bagian utara," tegas Lieberman.
Latar Belakang Konflik Lebanon
Gencatan senjata ini muncul setelah Trump melakukan pembicaraan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan PM Netanyahu. Langkah ini diharapkan mampu meredam konflik yang meletus sejak 2 Maret lalu, pasca serangan kelompok Hizbullah yang didukung Iran ke wilayah Israel.
Sejauh ini, agresi militer Israel di Lebanon telah memakan korban jiwa yang sangat besar. Tercatat lebih dari 2.000 orang tewas dan lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat rentetan serangan udara dan operasi darat Tel Aviv di perbatasan utara.(HS)

