![]() |
| Kondisi sungai di Batu Busuak yang terdampak banjir bandang |
Suaratebo.net, Padang - Upaya penyediaan air bersih dan sarana sanitasi pascabencana banjir di Sumatera Barat di wilayah Guo, Kelurahan Kuranji, Kota Padang tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan perencanaan berbasis data dan kondisi lapangan. Salah satu tahapan penting tersebut adalah aktivitas pemetaan lanskap yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat multidisiplin pada akhir Desember 2025.
Kegiatan pemetaan lanskap ini merupakan bagian dari program pengadaan air bersih dan sarana sanitasi dalam rangkaian Program Penanganan dan Pemulihan Cepat Bencana Banjir di Wilayah Sumatera Barat dengan Pendekatan Multidisiplin dan Aplikasi Teknologi Tepat Guna. Program pengabdian masyarakat ini dipimpin oleh Prof. Ramadhani Eka Putra dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan melibatkan kolaborasi lintas perguruan tinggi serta mitra komunitas. Program kolaboratif ini berhasil memulihkan layanan air bersih dan fasilitas sanitasi di Guo dengan memindahkan sumber dari sungai yang tercemar ke mata air alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. Langkah tersebut diawali oleh pemetaan lanskap yang mendalam terhadap kontur tanah, pola aliran air, sumber mata air potensial, serta aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
![]() |
| Peta rencana lanskap penyediaan air bersih di Guo |
Pemetaan lanskap dilakukan untuk memahami kondisi topografi, aliran air, karakter tanah, serta pola aktivitas masyarakat di wilayah terdampak banjir. Data tersebut menjadi dasar dalam merancang sistem penyediaan air bersih dan sanitasi yang tidak hanya fungsional secara teknis, tetapi juga aman, berkelanjutan, dan sesuai dengan konteks lokal. Dapat dikatakan, aktivitas pemetaan lanskap yang dilakukan merupakan teknologi perencanaan ruang yang memadukan data ekologis, sosial-budaya, dan ekonomi lokal untuk menentukan lokasi sumber air bersih yang optimal, jalur distribusi, serta titik sanitasi yang aman. Pendekatan ini menjadi sangat penting karena menentukan titik intervensi teknis yang tepat—dari instalasi penampungan air hingga sistem distribusi di posko pengungsian dan permukiman warga.
Menurut Dr. GES. Mohammad Zaini Dahlan, S.P., M.Si. dari program studi Magister Arsitektur Lanskap SAPPK ITB, yang terjun langsung dalam kegiatan pemetaan lanskap, menyatakan bahwa,"Pendekatan arsitektur lanskap dalam upaya penanggulangan bencana memberikan arahan spasial dengan program ruang dan aktivitas yang sesuai dengan konteks ekologi, ekonomi, serta sosial-budaya masyarakat di lokasi terdampak," ujarnya.
![]() |
| Rencana lanskap penyediaan huntara di Batu Busuak dengan mempertimbangkan kerentanan terhadap bencana |
Ia menambahkan bahwa pemetaan lanskap juga menjadi alat untuk membangun kesadaran kolektif. "Pendekatan ini melihat setiap fenomena sebagai permasalahan bersama (collective problems), sehingga menuntut solusi bersama (collective solutions) dan kerja bersama (collective works) untuk kebermanfaatan jangka panjang dan dampak yang lebih luas," lanjutnya.
Dalam praktiknya, Pemetaan lanskap memainkan peran penting dalam menentukan letak punctum sumber air bersih sehingga tim dapat menetapkan titik terbaik untuk bronchaptering, transmisi pipa, reservoir, dan water point yang diharapkan dapat melayani ratusan warga di Guo. Keputusan ini tidak dibuat secara artifisial, tetapi berdasarkan data ruang yang divalidasi di lapangan, yang memperkaya proses perencanaan teknis dengan konteks ekologi lokal.
Pendekatan berbasis lanskap ini dinilai relevan untuk wilayah Sumatera Barat yang memiliki karakter geografis kompleks dan tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Dengan memahami hubungan antara alam dan aktivitas manusia, solusi teknologi yang diterapkan diharapkan tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Melalui integrasi pemetaan lanskap dan teknologi penyediaan air bersih, program pengabdian masyarakat ini menegaskan bahwa teknologi dalam penanggulangan bencana tidak selalu identik dengan perangkat canggih. Perencanaan spasial yang tepat, berbasis data lapangan dan partisipasi masyarakat, justru menjadi kunci untuk membangun sistem air bersih dan sanitasi yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan pascabencana. (HS)


