![]() |
| Tangkapan layar video akun x @neVeral0nely_ |
Suaratebo.net - Gelombang kebocoran data kembali menerpa Indonesia, dengan JNE sebagai korban terbaru. Sekitar 81,47 juta catatan pelanggan dilaporkan bocor, dengan ukuran data mencapai 245GB. Data sensitif ini ditawarkan di dark web dengan harga $2.000 atau sekitar Rp31 juta.
Data yang bocor mencakup berbagai informasi penting, seperti:
- Informasi Penerima, nama, alamat, dan nomor ponsel
- Detail Pengiriman, nomor resi, status, jenis layanan, dan deskripsi barang
- Informasi Pembayaran, nilai transaksi, metode bayar, dan kode asuransi
- Identitas Kurir, nama, NIK, dan kode cabang
- Data Lokasi, koordinat presisi, wilayah, dan zona
- Bukti Pengiriman, tautan foto ePOD aktif
- Riwayat Internal, manifest, delivery run sheet, dan kode internal
Kebocoran ini berpotensi memicu berbagai ancaman, seperti:
- Penipuan COD, pelaku kejahatan dapat menggunakan data untuk melakukan penipuan dengan memanfaatkan sistem pembayaran cod
- Social Engineering, data dapat digunakan untuk memanipulasi pelanggan dan mendapatkan informasi sensitif lainnya
- Pencurian Identitas Kurir, data kurir dapat disalahgunakan untuk melakukan kejahatan lainnya
- Pemalsuan Dokumen Pengiriman, data dapat digunakan untuk membuat dokumen palsu
Diunggah di akun media sosial x @neVeral0nely_ terkait kebocoran data tersebut.
JNE belum memberikan pernyataan resmi terkait kebocoran data ini. Namun, pelanggan JNE perlu waspada dan berhati-hati terhadap potensi ancaman yang dapat timbul dari kebocoran data ini. (HS)
